- By Admin
- Senin, 25 Mei 2026
24 Pasangan Bukan Muhrim di Tanahbumbu Kepergok Berduaan di Kamar Hotel, Kasatpol PP Buka Suara
Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran (Satpol PP dan Damkar) Kabupaten Tanah Bumbu belum lama tadi mendapati puluhan pasangan bukan suami istri atau pasangan bukan muhrimdi kamar hotel.
Dari operasi yang digelar selama dua hari tersebut, petugas mengamankan sedikitnya 24 pasangan bukan suami istri yang kemudian langsung terdata oleh mereka.
Kepala Satpol, Syaikul Ansyari, menilai fenomena ini salah satunya dikarenakan biaya menikah yang cukup mahal, yang kemudian dipengaruhi oleh faktor jujuran.
<iframe frameborder="0" src="https://28a8119093825fef75c192ce4f2c6922.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-45/html/container.html" id="google_ads_iframe_/31800665/BanjarmasinPost/Article_2" title="3rd party ad content" name="" scrolling="no" marginwidth="0" marginheight="0" width="300" height="100" data-is-safeframe="true" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" allow="private-state-token-redemption;attribution-reporting" aria-label="Advertisement" tabindex="0" data-google-container-id="8" data-load-complete="true" style="padding: 0px; margin: 0px; border-width: 0px; border-style: none; vertical-align: bottom;"></iframe>
Jujuran sendiri merupakan pemberian uang tunai atau barang berharga dari pihak keluarga calon mempelai pria kepada pihak wanita.
“Gegara jujuran aja pang ini ni, ada yang mau menikah tapi kawitannya minta jujuran mahal sehingga pria belum sanggup,” kata Syaikul Ansyari, Senin (25/5/2026).
Berdasarkan pemeriksaan, dari beberapa kasus atau pasangan yang sempat terjaring, sebagian di antaranya mengaku memang sudah ingin menikah namun saat ini masih menabung untuk mengumpulkan uang.
Syaikul menyebutkan bahwa selama proses mengumpulkan uang tersebut, kadang ada saja godaan-godaan tertentu hingga akhirnya mereka ditemukan petugas di hotel atau penginapan seperti ini.
Melihat kondisi tersebut, ia mengimbau kepada orang tua agar mempertimbangkan kembali terkait pesta pernikahan dan uang jujuran ini.
<iframe frameborder="0" src="https://28a8119093825fef75c192ce4f2c6922.safeframe.googlesyndication.com/safeframe/1-0-45/html/container.html" id="google_ads_iframe_/31800665/BanjarmasinPost/Article_3" title="3rd party ad content" name="" scrolling="no" marginwidth="0" marginheight="0" width="300" height="250" data-is-safeframe="true" sandbox="allow-forms allow-popups allow-popups-to-escape-sandbox allow-same-origin allow-scripts allow-top-navigation-by-user-activation" allow="private-state-token-redemption;attribution-reporting" aria-label="Advertisement" tabindex="0" data-google-container-id="9" data-load-complete="true" style="padding: 0px; margin: 0px; border-width: 0px; border-style: none; vertical-align: bottom;"></iframe>
Syaikul menilai akan jauh lebih baik jika uang puluhan juta rupiah itu digunakan untuk modal kehidupan usai menikah nanti.
“Tapi demikian kita juga tidak bisa menyalahkan soal ini, dan yang terpenting adalah orang tua lakukan pengawasan kepada anak.,” katanya.